🌗 Khotbah Dipanggil Untuk Melayani

Berdasarkankodrat manusia yang saling membutuhkan ini, kita dapat berkata bahwa manusia dipanggil oleh Tuhan untuk melayani. Dalam konteks keluarga misalnya, suami dipanggil untuk melayani isteri dan anak-anak, isteri dipanggil untuk melayani suami dan anak-anak, dan anak-anak dipanggil untuk melayani orang tua. Itulah inti hidup. DIPANGGILUNTUK MELAYANI Yoh. 13:1-20 Ketika seseorang/kita membaca kisah Yesus membasuh kaki para murid-Nya, maka kita akan sepakat bahwa kisah ini merupakan suatu kisah yang memuat ajaran tentang kerendahan hati seorang pemimpin besar seperti Yesus. Orang yang membaca cerita ini bisa membayangkan skenario yang terjadi pada saat itu. KhotbahGMIM - Minggu, 7 AGustus 2022 - Berjalan adalah contoh penyerahan diri pada kehendak Allah yang sama berkenannya seperti bekerja untuk-Nya ketika kita dipanggil untuk itu. 2. Apabila awan itu naik, mereka berangkat, tidak peduli senyaman apa mereka berkemah (ay. 17). MTPJ 23 - 29 Januari 2022 - Komitmen Dan Konsistensi Melayani Setiapanak-anak Tuhan dipanggil untuk melayani. Pelayanan yang Tuhan ingin untuk kita lakukan bukan hanya sekedar pelayanan di gereja. Tuhan memanggil anak-anak-Nya untuk melakukan pekerjaan-Nya di berbagai bidang, termasuk di antaranya bidang sekuler. 1 MELAYANI DENGAN SEPENUH HATI. 2. 21:2821:28 "Tetapi apakah pendapatmu tentang ini: Seorang"Tetapi apakah pendapatmu tentang ini: Seorang mempunyai dua anak laki-laki. Ia pergi kepada anak yangmempunyai dua anak laki-laki. Ia pergi kepada anak yang sulung dan berkata: Anakku, pergi dan bekerjalah hari inisulung dan berkata: Anakku, pergi dan 1 Panggilan melayani adalah pangilan yang istimewa, mulia dan kudus (ayat 26) Perlu kita sadari bahwa kita adalah orang yang berdosa, sementara Tuhan yang empunya ladang pelayanan adalah kudus. Kalau kita bisa dipanggil untuk melayani itu adalah anugerah Tuhan. . Khotbah Kristen Dipilih, Dipanggil dan Diutus Yesaya 6 5, 8 Khotbah Kristen Dipilih, Dipanggil dan Diutus Yesaya 6 5, 8. Dalam suatu rapat, seorang pendera membawakan renungan dan bacaan Alkitab yang menjadi dasar renungannya hanya satu ayat, yaitu Yesaya 68 “Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku? Maka sahutku Ini aku, utusllah aku!” Menurut pendeta itu, ayat ini bukan hanya berbicara tentang panggilan, tetapi juga pengutusan. Allah memilih dan memanggil Yesaya karena Dia mengenal Yesaya. Lalu mengapa terjadi pengutusan? Karena Yesaya menerima panggilan tersebut. Yesaya menerima panggilan itu karena dia mengenal Allahnya dan dia juga mengenal dirinya sendiri. Dalam ayat 5 dia menyatakan, “aku telah melihat Raja, TUHAN Yang Mahakuasa, yang kudus”, dan dia tahu siapa dia, yaitu “orang yang bermulut kotor karena dosa.” Oleh karena itu, dia bersyukur dan menerima panggilan Tuhan. Dipilih, Dipanggil dan Diutus Hubungan antara dipilih, dipanggil dan diutus pada masa Perjanjian Lama terlihat langsung dan sederhana. Begitu juga dalam pemilihan raja-raja. Tuhan memilih Daud melalui seleksi yang dilakukan Samuel, nabi-Nya 1 Samuel 16. Tuhan berpesan, “Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati” ayat 7b, dan Tuhan memilih langsung, “Bangkitlah, urapilah dia, sebab inilah dia” ayat 12. Melalui Samuel, Tuhan memilih Daud. Tuhan mengenal Daud dengan segala perilakunya. Hari ini adalah Minggu pertama dalam Tahun Pelayanan MJ GKI Samanhudi 2019-2020. Para penatua yang diteguhkan dua minggu lalu merupakan calon-calon yang dipilih melalui pergumulan dalam persidangan MJ dan perwartaan kepada anggota jemaat. Mereka dianggap menerima panggilan pelayanan dan bersedia diutus. Proses pemilihan saat ini lebih tidak langsung. Keterlibatan Tuhan dicerminkan melalui keterlibatan kita, umat-Nya. Pemilihan penatua diawali dengan proses pencalonan yang terbuka bagi anggota jemaat. Apakah para penatua yang terpilih merupakan pilihan yang sesuai dengan kehendak Allah? Itu sangat bergantung kepada kita. Tuhan tidak memilih secara langsung seperti di zaman raja-raja Perjanjian Lama. Tuhan mempercayakan pemilihan para pemimpin-pelayan jemaat kepada kita dan kepada tata cara yang kita sepakati bersama. Semua akan bergantung kepada kita. Apakah kita memiliki aspirasi terhadap siapa yang kita harapkan akan menjadi pemimpin-pelayanan alias anggota MJ? Apakah yang bersangkutan menerima panggilan dan bersedia? Apakah kita peduli dan ikut ambil bagian dalam proses pemilihan? Atau kita hanya dapat mengeluh kalua yang terpilih dianggap kurang pas. Padahal kita tidak ikut mengusulkan calon untuk jabatan tersebut? Tuhan memberikan tanggung jawab pemilihan tersebut kepada kita. Lalu setelah susunan Majelis Jemaat terbentuk, kita bersama juga bertanggung jawab untuk mendukung dan ikut ambil bagian dalam program pelayanan jemaat yang sudah ditetapkan. Seharusnya semua pemimpin dipilih, dipanggil, dan diutus oleh dan untuk Tuhan. Hasil pemilihan yang benar akan tercemin pada saat mereka melaksanakan tugas mereka, yaitu melayani untuk kepentingan Tuhan, umat Tuhan, masyarakat, dan lingkungan alam. Hal ini berlaku dalam pelaksanaan tugas kita dalam lingkup apa pun yang menjadi tanggung jawab kita. Pada 17 April 2019 bangsa kita akan melaksanakan hajatan demokrasi, yaitu Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, serta pemilihan pemerintahan dan wakil-wakil kita bersama dan seperti apa bangsa Indonesia yang kita inginkan di masa depan. Sebagai warga gereja dan warga negara kita seharusnya ikut berpartisipasi dalam pemilihan dan bertanggung jawab atas proses pemilihan yang Tuhan sudah percayakan kepada kita. Kita seharusnya memastikan agar mereka yang terpilih akan memahami panggilannya dan bersedia diutus untuk melayani rakyat, bangsa, dan negara. Apa yang perlu kita perhatikan? Belajar dari respons yesaya, kita perlu memahami siapa-siapa calon yang mengenal Tuhan Allahnya; siapa-siapa calon yang mengenal dirinya, perilakunya, kemampuannya, komitmennya, untuk melaksanakan apa yang menjadi janji dan tanggung jawabnya. Diluar itu, tanggung jawab pemilihan berada pada kita semua. Kiranya Tuhan yang menolong kita dalam menjalankan tanggung jawab kita, sehingga kita dapat turut ambil bagian dalam misi Allah di dunia, khususnya di Indonesia. Selamat memilih. Pnt. Ruddy Koesnadi Di akhir jaman ini banyak penyimpangan yang terjadi di gereja-gereja Tuhan. Penyesatan dimana-mana, dan banyak sekali penyimpangan-penyimpangan ajaran di gereja Tuhan. Banyak jemaat Tuhan yang ke gereja karena mengidolakan hamba Tuhannya, bukan Tuhan yang dicari. Gereja Tuhan hari-hari ini mempertontonkan pertunjukan-pertunjukan yang tidak sesuai dengan kebenaran, supaya menarik anak-anak muda. Banyak orang tidak sadar bahwa dia di tipu oleh penyesat- penyesat. Bukan Tuhan yang disembah, tetapi hanya kedagingan mereka yang disenangkan. Gereja sedang dalam kesakitan. Karena itu kita harus hidup dalam kebenaran yang murni. Kesesatan harus diberitakan, bukan hanya tentang berkat-berkat saja yang perlu dikumandangkan oleh gereja-gereja Tuhan. Kita membutuhkan Revival. Revival bukan EO rohani, yang dikemas dengan pertunjukan mewah, artis-artis terkenal, atau musik yang spektakuler. Revival adalah hati yang berbalik kepada Kristus, hati yang bertobat, Hati yang diberikan kepada rencana dan kehendak Tuhan. Yunus dipanggil oleh Tuhan untuk memberitakan tentang Tuhan kepada Niniwe. Tetapi dia hendak melarikan diri ke Tarsis. Sehingga Tuhan mendidik Yunus, Tuhan membiarkan dirinya jatuh ke laut dan masuk dalam perut ikan selama 3 hari. Tuhan memanggilnya kembali ke panggilannya yang semula memenangkan kota Niniwe, sehingga seluruh Niniwe mengenal Tuhan Yunus 13. Tuhan punya panggilan untuk setiap kita Mungkin kita juga seperti Yunus, kita melarikan diri dari panggilan Tuhan. Tetapi Tuhan begitu rindu mempertahankan dan mengejar setiap kita. Tuhan sudah menyiapkan sebuah misi untuk kita kerjakan dalam hidup ini. Sayangnya banyak orang yang tidak mau menjalankan misinya. Mereka mau mengatur hidup mereka sesuka hatinya. Pada mulanya, Yunus dengan sengaja menaiki perahu yang tujuannya bukan ke Niniwe. Apakah kita juga demikian? Jangan salah menaiki kapal! Ada kapal yang bisa membawa kita menuju panggilan kita, dan ada kapal yang bisa membuat kita jauh dari panggilan Tuhan. Ada kapal pesiar yang isinya orang2 kaya, mereka berpesta pora dalam kapal, sedangkan pelayan-pelayan bekerja keras untuk melayani orang-orang kaya itu. Berbeda dengan kapal perang. Dalam kapal perang semua bergandengan tangan untuk menghadapi peperangan di depan mereka. Gereja Tuhan harusnya menjadi kapal perang, yang tujuannya membawa kita kepada kemenangan. Banyak orang yang lari dari panggilannya. Tetapi Tuhan panggil lagi Yunus dengan cara-Nya. Ini adalah sebuah proses penyadaran. Kalo kita ingin diangkat Tuhan, kita harus siap diproses dan dimurnikan Tuhan. Ketika Yunus mendapatkan panggilan yang kedua, Yunus taat dan melakukan apa yang Tuhan katakan. Ketika dia meresponi panggilan Tuhan, satu kota diselamatkan. Tuhan juga rindu memakai kita untuk menjadi alat-Nya menjangkau mereka yang terhilang. Bagi tuhan, jiwa-jiwa itu sangat berharga. Mari ajak orang-orang sekeliling kita untuk mengenal Tuhan. Diperlukan orang-orang yang meresponi panggilan-Nya. Dibutuhkan orang-orang yang mau dipakai Tuhan menggenapi rencana-Nya yang besar. Maukah anda meresponinya? Bacaan Firman Tuhan Kisah Para Rasul 20 21-31 Tetapi sekarang sebagai tawanan Roh aku pergi ke Yerusalem dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi atas diriku di situ selain dari pada yang dinyatakan Roh Kudus dari kota ke kota kepadaku, bahwa penjara dan sengsara menunggu aku. Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah. Dan sekarang aku tahu, bahwa kamu tidak akan melihat mukaku lagi, kamu sekalian yang telah kukunjungi untuk memberitakan Kerajaan Allah. Sebab itu pada hari ini aku bersaksi kepadamu, bahwa aku bersih, tidak bersalah terhadap siapapun yang akan binasa. Sebab aku tidak lalai memberitakan seluruh maksud Allah kepadamu. Pesan perpisahan yang disampaikan oleh Rasul Paulus yang akan melanjutkan perjalanan misi penginjilan ke Yerusalem memberikan kita pedoman dan panutan hidup yang layak dan patut kita tiru. Paulus mengungkapkan bagaimana dia sebagai “tawanan Roh” yang menyerahkan segala kehidupannya hanya untuk melayani Tuhan. Paulus bersaksi tentang hidupnya, bagaiamana ketulusan dan kesungguhan hidupnya yang dipanggil sebagai rasul ayat 26-27. Dari sini kita belajar dari rasul Paulus tentang kesungguhannya untuk taat dan melayani Tuhan dalam hidupnya, bahwa dia dapat lepas dari segala beban dan tekanan dalam menjalani kehidupannya karena dia memiliki kesungguhan untuk hidup dalam panggilannya sebagai rasul. Walaupun ada banyak hambatan dan tantangan, namun tidak pernah itu semua menghambat dan menyulitkannya, sebab niat dan pelayanannya dilakukan dengan ketulusan. Paulus dengan pasti dan penuh keyakinan tanpa beban dapat maju melangkah ke depan menjalani hidup. Paulus melihat kebelakang tanpa penyesalan dan juga memandang ke depan tanpa ketakutan. Walaupun Paulus tidak tahu apa yang akan terjadi dalam dirinya di depan, namun dia tidak pernah menghiraukannya, sebab dia tetap pada fokus hidupnya yaitu menyelesaikan tugas yang telah Tuhan Yesus berikan kepadanya. Melalui pengalaman hidup Paulus kita mendapatkan hikmat yang berharga sebagai orang-orang yang terpanggil dalam iman kepada Tuhan Yesus Kristus dalam menjalani kehidupan ini. Bisa banyak hal yang terjadi dalam hidup kita, yang membebani dan menyusahkan kita, namun bagaimana kita mampu untuk mengendalikan hidup dalam setiap situasi. Kita tidak bisa memaksakan kehendak supaya hanya hal-hal baik yang kita terima, namun kita harus belajar untuk menerima setiap kenyataan yang terjadi dan mampu mengendalikan diri dalam situasi apapun. Di saat senang, maka bersenanglah sewajarnya tanpa berlebihan, jangan sampai kesenangan itu menjatuhkan kita pada sikap tinggi hati dan sombong, tetapi takutlah akan Tuhan dengan tahu mengucap syukur bahwa itu adalah pemberian Tuhan. Di saat susah, hadapilah kesusahan dengan sewajarnya, tanpa berlebihan menyikapinya. Jangan sampai kesusahan itu membuat kita jauh dari Tuhan, namun berpenganglah pada pengharapan kepada Tuhan sebagaimana prinsip hidup Paulus “Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku” Baik suka maupun duka dapat terjadi dan silih berganti dalam hidup kita, yang terkadang tidak dapat prediksi apa yang akan terjadi ke depan, sebagaiaman tertulis di Pengkhotbah 3 1, 11 “untuk segala sesuatu ada masanya.... tetapi Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktunya”. Sekalipun itu kesusahan dapat menjadi kebaikan bagi kita ketika kita dapat menempatkan diri dengan baik bahwa kita hidup bukan bergantung pada dunia ini tetapi bergantung pada Tuhan yang telah memanggil dan menjadikan kita anak-anakNya. Segala sesuatu bisa terjadi dalam hidup kita, namun itu semua tidak pernah menjadi beban yang memberatkan kita menjalani hidup, sebab kita memiliki prinsip hidup yaitu hidup untuk melayani Tuhan. Kita dapat menjalani semua yang terjadi dalam hidup tanpa beban sebab yang kita perbuat semata-mata hanya untuk kemuliaan nama Tuhan. Kita tahu dan yakin bahwa Tuhanlah yang akan meluruskan jalan bagi kita asal kita memegang prinsip iman sebagaimana yang dikatakan Tuhan Yesus “Marilah kepadaKu semua yang letih dan lesu dan berbeban berat.....pikullah kuk yang kupasang....dan jiwamu akan mendapat ketenangan” Matius 1128-30

khotbah dipanggil untuk melayani